Rabu, 22 Oktober 2014

Pembentukan Lebih Lanjut

Pembentukan lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi Bahasa Indonesia dengan kata – kata serapan sebagai bentuk dasarnya.

  Kata – kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/, /t/, /k/, dan geseran
   apiko alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng-  fonem tersebut hilang atau
   luluh,
   Contohnya:   Orang itu memukul bola dengan sangat baik.
                          Pemuda itu menyusun tugasnya dengan sangat rapih.

  Kata – kata  serapan diawali dengan konsonan bilabial tak bersuara /p/ seperti : paket,
   potret, piket. Jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng-an, kata – kata tersebut
   diperlakukan sama dengan kata – kata dalam Bahasa Indonesia yang lain.
   Contohnya :   Wanita itu sangat hebat dalam memotret.
                          Agus sedang memaketkan motornya.

  Kata – kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara
   /t/, seperti : target, teror, telpon. Apabila dibentuk dengan awalan meng- dan peng-an
   agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, maka konsonan
   awal tidak mengalami peluluhan, selain itu juga diberi tanda hubung untuk mempertegas
   batas antara kata dasar dengan unsur – unsur pembentukannya.
   Contohnya :  KPK men-target-kan Indonesia bebas korupsi 2025.
                           Semua yang terlibat dalam pen-teror-an tersebut di hukum seadil – adilnya.

  Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan system fonologi
   Bahasa Indonesia menjadi /p/. yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami
   penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/ mendapat sengauan yang homorgan,
   yaitu /m/.
   Contohnya :  Presiden yang baik selalu memikirkan nasib rakyatnya
                         Dia tega menfitnah teman baiknya sendiri.

•  Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/, seperti : katrol, kontak, konsep, dan
   keker luluh apabila mendapat awalan meng- atau konfiks peng-an.
   Contohnya :   Pemburu itu sedang focus mengeker hewan buruannya.
                          Arsitektur sedang mengerjakan pengonsepan gedung baru MK.

  Kata - kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/
   ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Seperti : sample, setor, sekrup.
   Contohnya :   Para nasabah menyetor sejumlah uang ke bank.
                          Pak polisi menyetop kendaraan yang melanggar peraturan lalu lintas.

  Seperti halnya pada unsur serapan yang lain, kata – kata yang masih terasa asing
   mendapat perlakuan yang berbeda.
   Contohnya :  Pensinkrunan komputer tersebut gagal.
                           Orang itu sedang berusaha mensistematiskan cara lama.

  Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ dan /kr/ seperti : protes,
   program, produksi. Jika mendapat awalan meng- /p/  dan /k/ tidak luluh, tetapi apabila
   mendapat konfiks peng-an /p/ dan /k/ -nya luluh.
   Contohnya :   Panitia sudah memperkirakan jumlah penonton yang akan datang
                          Perkiraan saya besok akan hujan lebat.

  Kata – kata serapan yang diawali  dengan gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/,
   tidak mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng-
   maupun konfiks peng-an.
   Contohnya :   Sangat sulit untuk menstabilkan bola itu.
                            Lina sedang mentraktir teman – temannya makan bakso.

  Kata – kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terdiri atas tiga fonem dan
   fonem yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara, apabila ada, konsonan
   pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng- atau peng-.

  Kata – kata serapan itu tentu saja juga dapat mengalami proses pengulangan seperti :
   traktor-traktor, komputer-komputer. Kata – kata serapan tidak dapat mengalami
   perulangan sebagian yang berupa dwipurna atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan
   awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh.
   Contohnya :    Para penonton hanya bisa mengkritik-kritik permainan Timnas.
                            Pemain sirkus itu sedang berusaha menstabil-stabilkan bola – bola itu.

Rabu, 15 Oktober 2014

Ucapan dan Ejaan

Ucapan:
Bahasa Indonesia sebagian besar penuturnya adalah bahasa kedua, karena bahasa pertama mereka adalah bahasa daerah masing-masing.

Ejaan:
1.       Pengantar
2.       Penulisan Huruf:
a.       Penulisan Huruf Kapital: huruf kapital digunakan untuk mengawali kalimat baru.
Kata Tuhan pun diganti dengan huruf kapital, contoh:
Ø  Semoga Dia selalu melindungi hamba-Nya
Ø  Hanya Engkaulah yang maha pencipta

Dengan nama diri, gelar kehormatan, keturunan atau keagamaan, contoh:
Ø  Nabi Muhammad
Ø  Sultan Hamengkubuwono

Kalau terpisah dari nama diri atau pengertian umum ditulis dengan huruf kecil, contoh:
Ø  Jokowi baru saja diangkat menjadi presiden
Ø  Ahok akan dilantik menjadi gubernur

Nama jabatan akan diganti kapital apabila dikaitkan dengan nama instansi / nama daerah, contoh:
Ø  Presiden Republik Indonesia
Ø  Gubernur Papua

Nama diri / lembaga diawali dengan huruf kapital kecuali berupa kata tegas, contoh:
Ø  Ahmad Yani
Ø  Muhammad Husni Thamrin
Ø  Fakultas Teknologi Industri
Ø  Kementrian Keuangan

b.      Huruf Tebal dan Huruf Miring: Judul buku / majalah, harus ditulis dengan huruf tebal.
Judul buku & majalah, contoh:
Ø  Kamus Bahasa Inggris
Ø  Pembinaan Bahasa Inggris

Judul naskah skripsi dan tesis ditulis dalam tanda petik (“...”), contoh:
Ø  “Grammar Bahasa Inggris”
Ø  “Majas dalam Kamus Bahasa Indonesia”
Ketika sudah tercetak ditulis dengan huruf miring, contoh:
Ø  “Grammar Bahasa Inggris”
Ø  “Majas dalam Kamus Bahasa Indonsia”

Huruf miring juga dipergunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan kata, contoh:
Ø  Dia bukan ditukar tetapi menukar  (“di-“ dan “me-“ ditulis miring)

Huruf miring juga digunakan untuk nama ilmiah /  ungkapan asing, contoh:
Ø  rakyat disuruh kerja romusha
Ø  rakyat disuruh kerja rodi
3. Penulisan Partikel dan Awalan
                Penulisan Partikel dan Awalan yang sesuai dengan EYD perlu di perhaikan penulisan kata atau partikel yang di rangkaikan dan yg tidak di rangkaikan
Ø  Kata awalan yang harus di tulis serangkai yaitu adi-
Contoh : adimarga, adibusana
Ø  Kata ‘antara’ ditulis terpisah sedangkan kata ‘antar’ ditulis serangkai
Contoh: antar pulau,antar Provinsi
Ø  Kata ‘maha’ apabila dirangkai tululis serangkai
Contoh : Mahatahu,mahaadil,mahahebat
Ø  Kata ’pra’, ‘pasca’ ditulis serangkai
Contoh : pascasarjana,prahara
Ø  Kata ‘anti, ‘non’ ,’non’, ‘sub’,’poli’,’ultra’ ditulis serangkai
Contoh : antiradiasi,nongelat,subunit,ultramodern
Ø  Gabungan dua kata yang diapit oleh awalan dan akhiran di tulis serangkai
Contoh : ketidaktahuan.kemampuan
Ø  Kata yang harus ditlis serangkai adalah
Contoh : sekaligus,apabila,bilamana

4.       Penulisan Bilangan:
Bilangan ada yang harus ditulis dengan angka / huruf. Bilangan yang menunjukan tahun, jam, tanggal, nomor rumah, bab dan subbab harus ditulis dengan angka. Bilangan yang menunjukan jumlah ditulis dengan huruf, contoh: “empat juta rupiah” dan “sembilan ribu rupiah” kecuali dalam tabel / grafik. Jumlah yang menyatakan ukuran dengan timbangan boleh ditulis dengan angka & huruf. Bilangan tingkat bisa menggunakan angka, huruf dan angka huruf, contoh: Abad ke-18 (abad VIII).
5.Tanda Baca
Ø  Tanda titik (.), di gunakan untuk menandai berakhirnya kalimat
Contohnya :
 Hilman selesai bermain sepeda di taman.
Kue yang dibeli Ibu rasanya manis sekali.

Ø  Tanda koma (,) digunakan untuk menandai adanya jeda
Contoh :
Walaupun sakit,pak Ardi tetap bekerja demi keluarga
Meskipun mengantuk, Lira tetap belajar demi ujian besok

Ø  Titik koma(;)
 digunakan untuk memisahkan kalimat yang sejenis dan setara
Contoh : Aris menggunakan pensil bewarna merah ; Ares menggunakan pensil bewarna biru

Digunakan untuk membatasi bagian kalimat yang mengandung koma
Contih : di taman Rayi bermain baseball,bola dan tenis ; sedang Nina bermain pingpong,futsal dan basket

Ø  Titikdua(:)
Di pakai di akhir dari suatu pernyataan yang diikuti dengan penjelasan dan rincian
Contoh :
Nama pemain : Kobe bryant,Lebron James

Ø  Tanda petik(“-“)
Tanda petik dalam sebuah tulisan biasanya dicetak dengan huruf miring

Ø  Tanda Hubung(-):
tanda yang digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang,
contoh:
Sayur-sayuran
                          Buah-buahan

Digunakan untuk huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan,
contoh:
Abad ke-21
Dokumen kerja-nya terbakar.

Digunakan juga untuk membatasi tanggal, bulan dan tahun apabila semuanya ditulis angka,
contoh:
Bekasi, 08-09-2009

Digunakan untuk menghubungkan awalan dan akhiran tanda baca dalam bahas asing,
contoh:
 Di-smash
Di-halai

6.       Tanda-Tanda Baca yang Lain:
Tanya(?), tanda seru(!), tanda kurung(), tanda kurung siku([]), tanda garis miring(/) dan tanda penyingkat/apostrof(‘), contoh:
Ø  Tanda tanya = Di mana kantormu?
Ø  Tanda seru = Cepat kerjakan tugas itu!
Ø  Tanda kurung = faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) modal, dll
Ø  Tanda kurung siku = si Kancil iitu men[d]engar bunyi angin berhembus
Ø  Tanda garis miring = Jl. H. Muhiyin 04/12

Ø  Tanda penyingkat/apostrof = istana yang megah ‘kan ku bangun (‘kan: akan)