A.Pengantar
Untuk membetulkan sesuatu, kita harus tahu terlebih dahulu dimana letak kesalahan tersebut.Suatu pembetulan terkadang bisa menyebabkan suatu kalimat tersebut bertambah salah. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk di dalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa.
Kita harus tahu dimana kalimat yang salah dan dimana kalimat yang tidak efektif. Suatu kalimat yang salah bisa saja membuat kalimat tersebut kurang efektif, namun ada juga tuturan yang dari sudut tata yang tidak salah, tetaoi kurang efektif. Bentuk yang kurang efektif itulah yang harus kita ubah menjadi kalimat yang benar dan efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat ditangkap dan mudah dipahami maksud dan tujuannya oleh pembaca, menghayati masing-masing tuturan itu, sehingga pembaca memahami kalimat tersebut. Kriteria lain adalah kelaziman, pemakaian kata, susunan frasa, dan kalimat tertentu yang di pandang lazim dalam bahasa tertentu.
B. Kesalahan Kalimat
Kesalahan kalimat dapat dibedakan menjadi 2 :
1. Kesalahan Internal : Kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat.
2. Kesalahan Eksternal : Kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dari luar kalimat.
Contoh kesalalhan Internal :
Untuk membetulkan sesuatu, kita harus tahu terlebih dahulu dimana letak kesalahan tersebut.Suatu pembetulan terkadang bisa menyebabkan suatu kalimat tersebut bertambah salah. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk di dalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa.
Kita harus tahu dimana kalimat yang salah dan dimana kalimat yang tidak efektif. Suatu kalimat yang salah bisa saja membuat kalimat tersebut kurang efektif, namun ada juga tuturan yang dari sudut tata yang tidak salah, tetaoi kurang efektif. Bentuk yang kurang efektif itulah yang harus kita ubah menjadi kalimat yang benar dan efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat ditangkap dan mudah dipahami maksud dan tujuannya oleh pembaca, menghayati masing-masing tuturan itu, sehingga pembaca memahami kalimat tersebut. Kriteria lain adalah kelaziman, pemakaian kata, susunan frasa, dan kalimat tertentu yang di pandang lazim dalam bahasa tertentu.
B. Kesalahan Kalimat
Kesalahan kalimat dapat dibedakan menjadi 2 :
1. Kesalahan Internal : Kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat.
2. Kesalahan Eksternal : Kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dari luar kalimat.
Contoh kesalalhan Internal :
Menurut Pakar Teknologi
Informatika (dalam rapat kementrian, 2014) menyatakan bahwa internet di
indonesia harus di gunakan secara benar dan tepat.
Dengan Pemakaian pupuk
organik dapat menyuburkan tanaman dan membuat tanaman menjadi sehat.
Semua kalimat di atas adalah
kalimat yang tidak logis. Pada kalimat yang pertama (1) dapat kita singkat
siapa yang menyatakannya. Jika dinyatakan hal itu, jawabannya tidak ada,
Walaupun bisa di jawab oleh Pakar Teknologi Informatika, melainkan
diinsyaratkan dengan kata mereka. Contoh yang benarnya adalah : Pakar
Teknologi Informatika (dalam rapat kemetrian, 2014) menyatakan bahwa internet
di indonesia harus digunakan secara benar dan tepat.
pada kalimat nomor (2) jika di tanya dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman ?, maka jawabannya tidak dapat di cari dari kalimat itu. Sehingga kalimatnya adalah : Pupuk organik dapat menyuburkan tanaman dan membuat tanaman menjadi sehat.
berdasarkan pernyataan di atas dapat dinyatakan bahwa kelogisan kalimat akan terlihat pada kejelasan fungsional antar unsur kalimat. Kejelasan kalimat akan terlihat jika Subjek, Prediket, dan objek, pelengkap, dan keterangan terdapat di salam suatu kalimat. Ketidakjelasan suatu kalimat dapat membuat kalimat susah di pahami dan menjadi berbelit-belit. Disamping kesalahan logika, kesalahan kalimat dapat terjadi ketidaklengkapan kalimat yang tidak lengkap itu hanya mengandung sebagian saja unsur-unsur yang seharusnya ada. Contoh :
pada kalimat nomor (2) jika di tanya dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman ?, maka jawabannya tidak dapat di cari dari kalimat itu. Sehingga kalimatnya adalah : Pupuk organik dapat menyuburkan tanaman dan membuat tanaman menjadi sehat.
berdasarkan pernyataan di atas dapat dinyatakan bahwa kelogisan kalimat akan terlihat pada kejelasan fungsional antar unsur kalimat. Kejelasan kalimat akan terlihat jika Subjek, Prediket, dan objek, pelengkap, dan keterangan terdapat di salam suatu kalimat. Ketidakjelasan suatu kalimat dapat membuat kalimat susah di pahami dan menjadi berbelit-belit. Disamping kesalahan logika, kesalahan kalimat dapat terjadi ketidaklengkapan kalimat yang tidak lengkap itu hanya mengandung sebagian saja unsur-unsur yang seharusnya ada. Contoh :
Situasi pasar ikan mengalami
sepi pembeli. Sehingga para pedagang ikan mulai berusaha di bidang lain.
kalimat di atas merupakan
kalimat yang hanya di isi oleh keterangan akan lebih baik jika kalimat kedua
diintegrasikan menjadi satu dengan kalimat sebelumnya seperti : Situasi pasar
ikan mengalami sepi pembeli sehingga para pedagang ikan mulai mencoba usaha di
bidang lain.
C.Membetulkan Kesalahan Kalimat
1.Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun kalimat seringkali terdapat kata depan atau preposisi, lalu verbnya menggunakan bentuk aktif atau berawalan men- baik dengan atau menggunakan akhiran kan. menyebabkan kalimat salah seperti :
C.Membetulkan Kesalahan Kalimat
1.Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun kalimat seringkali terdapat kata depan atau preposisi, lalu verbnya menggunakan bentuk aktif atau berawalan men- baik dengan atau menggunakan akhiran kan. menyebabkan kalimat salah seperti :
Bagi yang merasa kehilangan
dompet harap mengambilnya di costumer service.
Untuk perbaikan prasarana
kampus tersebut memerlukan banyak dana.
Menjadi :
Yang merasa kehilangan
sebuah dompet harap mengambilnya di bagian costumer service
Perbaikan prasarana kampus
harus memerlukan banyak dana.
2. Kalimat dengan Objek
Berkata Depan
Kesalahan yang telah dibicarakan dapat dikatakan sebagai kesalahan pekaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Contoh :
Kesalahan yang telah dibicarakan dapat dikatakan sebagai kesalahan pekaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Contoh :
Hari ini kita tidak akan
membicarakan lagi mengenal soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
Dalam setiap kesembatan
mereka tidak bosan bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan
waktu itu.
perlu di catat bahwa dalam
bahasa indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan
paduan,misalnya :
Bertentangan dengan,
bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan,
serupa dengan.
3.Kostruksi Pemilik Berkata
Depan
kesalahan pemakain kata depan detemui pada fraksi frasa: termilik + pemilik.
kesalahan pemakain kata depan detemui pada fraksi frasa: termilik + pemilik.
Kebersihan lingkungan adalah
kebutuhan semua warga di indonesia.
wifi di kampus-kampus harus
ditambah.
dalam karangan keilmuan
konstruksi frasa yang tidak baku seperti di atas harus dihindari karena dalam
bahasa indonesia hubungan "Termilik + pemilik" bersifat
implisit.dengan pembetulan maka maksud dari kalimat tersebut jelas.
4.Kalimat yang 'Pelaku' dan verbaanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verbanya dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu 'pelaku' dan verba yang menuntut hadirnya satu pelaku lagi. Kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verbanya dua 'Pelaku'. Contoh :
4.Kalimat yang 'Pelaku' dan verbaanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verbanya dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu 'pelaku' dan verba yang menuntut hadirnya satu pelaku lagi. Kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verbanya dua 'Pelaku'. Contoh :
Dalam sebuah rapat dia
bersaut sautan dengan gencarnya
Dalam seminar itu dia
mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam-jam.
menjadi :
Dalam sebuah rapat dia
bersaut sautan dengan tomi.
Dalam seminar itu, dia
mendiskusikan perbuahan sosial masyarakat pedesaan dengan para pakar
5.Penempatan yang
Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina
Konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + berpronomina + verb dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronomina dengan verba atau dalam pola. contoh :
Konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + berpronomina + verb dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronomina dengan verba atau dalam pola. contoh :
Saya sudah katakan tidak...
Kita sedang usahakan...
Menjadi :
Sudah saya katakan tidak...
Sedang kita usahakan
6.Kesalahan Pemakain kata
Sarana
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata enghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan. Kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pekaian kata pada umumnya terjadi pada pemakain kata depan di, pada, dan dalam. Cotnoh :
Dalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata enghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan. Kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pekaian kata pada umumnya terjadi pada pemakain kata depan di, pada, dan dalam. Cotnoh :
Di saat istirahat guru
mendatangi para muritnya
Benih itu ditaburkan pada
kolam yang baru
Adapun kesalahan pekaian
kata penghubung umunya terjadi karena ketidaksesuaian antara pemakaian kata
penghubung dan manka hubungan antarklausanya.
D.Efektivitas Kalimat
D.Efektivitas Kalimat
1.Kurang Padunnya Kesatuan Gagasan
Telah kita ketahui bahwa setiap tuturan terdiri atas beberapa bagian atau satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki sebuah gagasan, Satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap.
Setelah lulus S1 di
universitas gunadarma, Veranda bercita-cita melanjutkan studinya di japan
Fakultas Bahasa Jepang. Fakultas Bahasa Jepang didirikan pada tahun 1995 dan
telah mendapat akreditas A. Dosen,assiten, dan karyawan mempunyai dedikasi yang
cukup tinggi.
Pada contoh di atas tidak
memilikis kesatuan gagasan.kejanggalan di atas menunjukkan bahwa antara gagasan
yang diungkapkan pada kalimat pertama tidak padu dengan gagasan yang lain.
kalimat-kalimat tersebut cenderung mengungkapan kecendrung tersendiri. Dengan
mengetahui tidak adanya kesatuan gagasan kita dapat menyimpulkan ahwa kesatuan
gagasan akan terwujud bilamana gagasan yang satu bertautan dengan
gagasan-gagasan lain.
Kurang Ekonomis Pemakaian Kata
Ekonomis dalam bahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Penghematan ini berkaitan dengan masalah kesamaan penuturan. Agar penuturan menjadi seksama, Kata-kata hendaknya benar dengan gagasan yang ingin diungkapankan. Contoh :
Kurang Ekonomis Pemakaian Kata
Ekonomis dalam bahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Penghematan ini berkaitan dengan masalah kesamaan penuturan. Agar penuturan menjadi seksama, Kata-kata hendaknya benar dengan gagasan yang ingin diungkapankan. Contoh :
Stress bukan hanya hanya
dirasakan oleh orang yang bekerja saja tetapi orang yang tidak bekerja juga.
Menjadi :
Stress dirasakan oleh orang
yang berja dan orang yang tidak bekerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar